Toxoplasmosis

Oleh Admin | Senin, 24 Juli 2017 | 229 Views
Toxoplasmosis

Apa itu Toxoplasmosis?

Toxoplasmosis adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Saat ini telah ditemukan tiga genotipe parasit Toxoplasma gondii. Genotipe tipe II diketahui sebanyak 80% menyebabkan infeksi kongenital.  Sebenarnya, penjamu definitif parasit Toxoplasma adalah kucing. Akan tetapi, infeksi dari Toxoplasma gondii juga dapat menimbulkan gejala pada manusia.

Apa faktor risiko Toxoplasmosis?

Infeksi Toxoplasma gondii akan meningkat pada;

  • Higiene dan sanitasi yang kurang baik
  • Kebersihan rumah yang kurang baik
  • Kontak erat dengan kucing liar
  • Kebersihan cara menyiapkan makanan sehari-hari yang kurang baik
  • Mengkonsumsi makanan mentah

Bagaimana mekanisme Toxoplasmosis?

Mekanisme infeksi Toxoplasma gondii pada manusia yang dapat terjadi secara kongenital (ditularkan melalui plasenta dan saat kehamilan), saat mengkonsumsi daging yang masih mentah, kontak dengan kotoran kucing, dan saat transfusi darah, serta transplantasi organ.

Pada saat kehamilan, risiko penularan semakin meningkat seiring penambahan usia kehamilan, hingga mencapai lebih dari 70% saat 36 minggu. Infeksi kongenital umumnya terjadi karena transmisi melalui plasenta ketika ibu terinfeksi semasa kehamilan atau ≤ 3 bulan sebelum hamil.

Apa saja gejala Toxoplasmosis?

Pada saat kehamilan, infeksi Toxoplasma gondii pada ibu memunculkan gejala yang kurang spesifik, seperti demam, letih, lesu, tidak nafsu makan, nyeri sendi, dan ditemukan pembesaran kelenjar getah bening seperti hal nya saat terkena infeksi biasa.

Apa saja akibat Toxoplasmosis pada janin?

Infeksi Toxoplasma gondii pada trimester pertama kehamilan dapat mengenai 17% janin yang dapat menyebabkan keguguran, cacat bawaan, kematian janin dalam kandungan, risiko gangguan perkembangan saraf, dan retardasi mental. Infeksi pada trimester selanjutnya dapat menyebabkan hidrosefalus (pembesaran volume dalam kepala karena peningkatan jumlah cairan), dan retinitis (radang pada retina). Pada saat dilakukan USG, dapat ditemukan cerebral ventriculomegaly, hidrosefalus, kalsifikasi intraserebral/hepar/otak.

Bagaimana cara mendiagnosis Toxoplasmosis?

Diagnosis dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain; pemeriksaan cairan amnion, menemukan kista di plasenta, isolasi, dan inokulasi, PCR (Polymerase chain reaction), dan kultur jaringan.

Cara yang paling umum dilakukan untuk diagnosis adalah pemeriksaan serologis. Wanita hamil terinfeksi Toxoplasma gondii akan memproduksi IgM dan IgG. IgM bertahan hingga 3 bulan paska infeksi dan IgG bertahan seumur hidup.

Tes diagnostik pada wanita hamil yang dicurigai terinfeksi Toxoplasma gondii dapat dilakukan sejak usia kehamilan 18 minggu dengan teknik Polymerase chain reaction (PCR).

Tes diagnostik ini hanya dilakukan pada wanita dengan faktor risiko;

  • Kontak dengan hewan liar
  • Riwayat sering mengkonsumsi daging mentah

Dan , atau temuan USG;

  • Hidrosefalus,
  • Kalsifikasi:hepar, lien, otak

Bagaimana mengobati Toxoplasmosis?

Pada sebagian besar kasus, pengobatan yang dilakukan adalah dengan spiramycin 1500 mg setiap 12 jam yang dapat diberikan pada wanita dengan hasil tes diagnostik yang positif untuk mencegah infeksi pada janin. Bila sudah didapatkan infeksi pada janin, terapi dikombinasikan dengan pyrimethamin, dan sulfadiazine, serta asam folat untuk mencegah supresi sumsum tulang sebagai efek samping kedua obat tersebut.

Bagaimana pencegahan Toxoplasmosis?

Toxoplasmosis dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan lingkungan, mencegah kontak erat dengan kucing, mempersiapkan makanan sehari-hari dengan benar, dan tidak mengkonsumsi makanan yang mentah.

 

Praktisi Dokter RSIA BUNDA

dr. Hanif Reza